greeting

SELAMAT DATANG | WELCOME

Senin, 17 September 2012

ANALISIS CERPEN (DRAFT)

Analisis cerpen Rembulan di Dasar Kolam - Danarto



SOSOK MISTIK SEORANG IBU
Danarto, sastrawan dan pelukis Indonesia terkemuka. Selain penulis cerpen, drama dan novel, Danarto juga terkenal sebagai pelukis. Ia lahir di Mojowetan, Sragen (Jawa Tengah), tanggal 27 Juni 1940. Saat ini ia adalah dosen Institut Kesenian Jakarta (sejak 1973). Lulusan ASRI Yogyakarta (1961) Ia pernah aktif dalam Sanggar Bambu Yogyakarta (1959 - 1964), kemudian ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Ia juga pernah menjadi redaktur majalah Zaman ( 1979-1985). Tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS dan tahun 1983 menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam.
Karya-karya Danarto cenderung mengarah ke aliran sufi dan mistik. Terbukti beberapa cerpennya banyak yang diterjemahkan oleh Harry Aveling dalam sebuah buku Abracadabra (Singapura, 1978). banyak pula yang menganalisis cerpen Danarto seperti yang dilakukan oleh Siti Sundari Tjitrobusono, dkk. dengan judul Memahami Cerpen-cerpen Danarto. Buku tersebut disusun agar mengerti apa yang dimaksud dalam cerpen-cerpen Danarto.
Cerpen Rembulan di Dasar Kolam lebih menekankan pada segi mistik yang dimiliki oleh seorang Ibu. Cerpen ini menggambarkan tokoh Saya (Bagas) yang suatu malam mendengar percekcokan Ibu dan Ayahnya tentang memata-matai. Ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya tengah terjadi diantara kedua orang tuanya itu. Hingga pada suatu hari ia memutuskan untuk menguntit Ibunya kemanapun Ibu pergi. Saat itulah ia juga melihat Ayahnya tengah menggandeng perempuan bule melewati Ibunya yang sedang asik jongkok memandangi relief patung batu di koridor perpustakaan. Ayah Bagas mengira Ibu memata-matainya. Pada akhir cerita disampaikan Ibu Bagas memiliki sebuah kemampuan untuk berteleport (pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waku yang singkat), mampu menguasai dimensi ruang dan waktu.
Sosok Ibu yang dapat dikatakan ajaib, mistik, atau sakti. Ibu di sini digambarkan seorang perempuan anggun yang mampu menegakkan keluarga, tidak banyak berkomentar, pengertian, sabar, dapat mengimbangi keras kepalanya Ayah Bagas. Ibu yang memang seorang wonder women yang ternyata pada akhir cerita diketahui Ibu dapat menguasai dimensi ruang dan waktu.
Kemistisan Ibu terlihat dalam cuplikan berikut:
Saya sampai di rumah lebih dahulu daripada Ibu. Saya beranjak dari teras ke dalam ruang ketika mobil Ibu memasuki pekarangan dan langsung ke garasi.
“Astaga!” pekik saya tiba-tiba ketika mendadak bertatapan dengan ibu yang muncul dari kamarnya sambil menenteng buku perpustakaan museumnya itu, padahal saya mendengar pintu mobil baru saja ditutup kembali.
“Bagas!” sergah Ibu, “Kamu kok seperti bertemu macan! Bengong dan merah padam!”
“mendadak saya tidak enak badan, Bu,” sahut saya sambil menghindar.
Saya memang gemetar. Barangkali saya tak kuat menyaksikan kejadian itu. Saya tak habis mengerti bagaimana mungkin Ibu secepat itu turun dari mobil lalu menutup pintunya tiba-tiba saja sudah muncul dari dalam kamarnya, padahal antara garasi dengan kamarnya paling tidak berjarak lima puluh meter. Untuk menuju kamarnya Ibu akan melewati saya yang sedang masuk kamar tamu dari teras.
Dalam kutipan di atas dapai dipahami bahwa Bagas terkejut ketika tiba-tiba ia mendapati Ibunya sudah berada di dalam kamarnya bersamaan dengan suara pintu mobil ditutup. Di sini jelas-jelas terbukti bahwa Ibu Bagas dapat berpindah tempat dengan cepat.
Ada pula bukti lain yang menyatakan kesaktian Ibu yang dapat menguasai dimensi ruang dan waktu:
Terdengar suara Ibu dari dalam rumah, buru-buru saya keluar dari mobil. Ini suatu hal yang tidak mungkin. Ibu saat ini sedang berada di Surabaya. Kecuali oleh suatu hal yang sangat darurat, Ibu selalu punya jadwal yang tepat. Saya bergegas ke rumah. Saya kaget ketika Ibu tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya, seperti peristiwa dulu.
“Lho! Ibu ternyata sudah datang,” seru saya. “Lebih cepat dari yang direncanakan.”
“Tidak,” sahut Ibu. “Sebenarnya Ibu saat ini masih di Surabaya.”
“Saya tidak mengerti maksud Ibu.”
Lalu Ibu masuk kembali ke kamarnya. Saya penasaran menunggu di luar. Setelh satu jam tak muncul, pelan-pelan saya memasuki kamarnya. Mlompong. Kamar itu kosong.
“Ibu!” teriak saya dengan gemetar. Jendela kelihatan tetap terkunci. Ibu telah lenyap tak berbekas. Pasti wajah saya nampak bengong dan merah padam. Lalu saya ke dapur. Pembantu asyik memasak. Saya segan untuk menanyakan tentang kedatangan Ibu tadi. Tukang kebun masih nampak merapikan tanaman. Sedang sopir masih mencuci mobil Ibu. Saya balik ke dalam dan memandangi kamar dengan perasaan bingung.
Kutipan di atas menerangkan Ibu yang seharusnya di Surabaya terdengar suaranya dari dalam rumah dan sosoknya pun dapat dilihat oleh Bagas. Betapa ajaibnya Ibu yang dapat dengan sekejap menduplikasikan dirinya untuk mengunjungi rumah, entah apa yang ingin ia kerjakan di rumah.
Dalam cerpen ini sumber mistis kemampuan Ibu dapat teleport dari satu tempat ke tempat lain melalui sebuah puisi karya Rabiah Al-Adawiyah berikut
Doa Rabiah dari Basrah
Wahai Tuhanku, apapun jua bahagian dari dunia kini yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada musuh-musuh-Mu dan apapun jua bahagian dari dunia akan tiba yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada sahabat-sahabat-Mu.
Bagiku Dikau sudah cukup.
Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Dikau di atas segalanya.
Dari kesegalaan di semesta ini pilihanku adalah berangkat menemani-Mu.
Inilah yang akan kuucapkan kelak: “Dikaulah segala-galanya.”
Wahai Tuhanku, tanda mata paling permata dalam hatiku adalah harapanku pada-Mu dan kata paling gula di lidahku adalah pujian pada-Mu dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Kau.
Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahankan hidup duniawi ini tanpa mengingat-Mu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia ini tanpa mengingat-Mu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia akan tiba tanpa menatap wajah-Mu? Wahai Tuhanku, inilah keluhanku. Daku ini orang asing di kerajaan-Mu dan mati kesepian di tengah-tengah penyembah-Mu!
Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku kelawang di tengah penakhluk perkasa. Jelmakan daku jadi tongkat kecil penunjuk jalan di orang buta.
Wahai Tuhanku, jangan jadikan aku pohon besar yang kelak menjadi tombak dan gada peperangan. Jelmakan daku jadi batang kayu rimbun di tepi jalan tempat musafir berteduh memijit kakinya yang lelah. Wahai Tuhanku, sesudah daku mati, masukanlah daku ke neraka dan jadikanlah jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka sehingga tak ada orang lain dimasukkan ke sana.
Wahai Tuhanku, bilamana daku menyembah-Mu karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembah-Mu karena gairah nikmat di sorga, maka tutupkanlah pintu sorga selamanya bagiku.
Tetapi apabila daku menyembah-Mu demi Dikau semata-mata maka jangan larang daku menatap Keindahan-Mu Yang Abadi.
Setelah puisi terebut dibaca oleh Bagas, ia secara tidak sadar juga memiliki kemampuan berpindah tempat tanpa sepengetahuan ia, terbukti dalam cuplikan berikut
“Masya Allah!” seru saya, “Madu! Seharian saya cuma di rumah saja. Sejengkal pun tak beranjak keluar dari pekarangan.”
Sementara Madu menertawakan saya yang dianggapnya bercanda, saya merasa suatu keanehn sedang menyelinap di hati sanubari saya. Mungkinkah saya sedang menyusul kemampuan Ibu lewat puisi Rabiah ini?
Tetapi bisa juga di pahami bahwa tokoh Bagas hanya bermain imajinasi mengenai kesaktian Ibunya karena ia secara tidak langsung dibuat bertanya-tanya mengenai percekcokan yang terjadi diantara kedua orang tuanya. Seolah-olah Bagas telah dipermainkan oleh perasaannya sendiri dari satu sisi ia merasa bersalah telah menuntit ibu yang surganya terletak dibawah kaki Ibunya.
Inilah kelabihan Danarto dalam menyampaikan aliran sufistik dan dunia imaji yang begitu luas. Pembaca dapat dibuatnya tercengang jika hanya dibaca sekali. Danarto mahir menggabungkan dunia imaji dalam sufi yang memang banyak masyarakat Indonesia masih memercayai keberadaanya. Cerpen ini seakan-akan memang potret kultur bangsa Indonesia pada saat itu yang berhasil dituangkan oleh Danarto dalam berbagai cerpennya.
Mungkin janggal jika membaca judul cerpen Rembulan di Dasar Kolam akan tetapi cerita yang dipaparkan mengenai kemistikan seorang perempuan. Asosiasinya adalah rembulan dapat diibaratkan dengan sosok Ibu yang teraniaya oleh watak suaminya berselingkuh dengan perempuan yang lebih dari dirinya dan watak suaminya inilah yang digambarkan sebagai dasar kolam. Rembulan yang mampu menyinari hingga dasar kolam, rembulan yang dengan cahayanya ia dapat menyinari belahan bumi mana saja. Demikian dengan tokoh Ibu yang mampu menyinari dan menegakkan keluarganya agar tidak timbul perpecahan, Ibu yang dengan keangguannya ternyata dapat menguasai ruang dan waktu.

DAFTAR RUJUKAN
Prasetia, Rian. 2011. Sastra Indonesia: Danarto, (Online), (http://selukbeluksastra.blogspot.com/2011/11/danarto.html), diakses 17 September 2012.



Analisis cerpen Menanti Bunda Kembali - Karkono



POTRET SEBUAH KELUARGA KECIL
Salah satu menuangkan ide inspiraif melalui karya tulis seperti cerpen, novel, dan puisi. Seperti halnya yang dilakukan oleh Karkono Supadi Putra, dosen jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang. Beliau banyak menulis cerpen, baik cerpen yang ringan untuk dibaca maupun cerpen yang banyak menimbulkan persepsi.
Karkono Supadi Putra, Beliau adalah seorang dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dan merupakan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Di samping pekerjaannya sebagai seorang dosen, beliau juga seorang penulis yang karya-karyanya sering dimuat di blog universitas dan beberapa media cetak. Walaupun Beliau dapat digolongkan sebagai penulis baru, tetapi ia sudah menunjukkan dedikasi untuk terjun lebih dalam dan berkecimplung dalam kancah dunia sastra melalui cerpen-cerpen karyanya. Beliau mengarang cerpen juga menggunakan interteks sebagai sumber inspirasinya.
Salah satu cerpen tulisan beliau adalah Menanti Bunda Kembali, menceritakan peristiwa yang dialami oleh keluarga kecil. Seorang Ayah yang menceritakan kegalauan istrinya hendak pergi haji karena harus meninggalkan anaknya yang masih delapan tahun. Sang Ayah berprofesi sebagai dokter, waktunya banyak tercurakan untuk rumah sakit dan kliniknya. Hingga pada suatu hari si anak yang bernama Ryan badannya demam mungkin karena terlalu rindu kepada Ibundanya, sang Ayah-pun tergopoh-gopoh mengkhawatirkan keadaan anaknya yang sudah banyak kehilangan ciran. Kegelisahan sang Ayah yang kemudian membawa malapetaka bagi mereka. Si Ayah terpaksa dirawat di sebuah rumah sakit karena kecelakaan yang dialaminya.
Cerpen ini memiliki kesederhanaan kebahasaan dan penggambaran cerita yang mudah untuk ditebak. Tidak terlalu rumit dalam membuat klimaks sehingga permasalahan yang ingin diciptakan tidak terlalu mengundang emosi pembaca.
Sangat berbeda dengan cerpen-cerpen karya Karkono yang lain misalnya saja pada cerpen Bayangan Hitam, Suara Tiga Hati, dan Lintang Kemukus. Kemungkinan cerpen ini ditulis untuk pembaca pemula (tingkat SD, SMP).
Cerpen ini menggambarkan keluarga yang harmonis, yang setiap pasutri pasti mendambakannya. Misalnya saja pada kutipan berikut
Aku bisa memahami apa yang dipikirkan istriku. Ryan masih berusia delapan tahun, pasti akan merasa sedih ditinggal bundanya pergi berhaji. Pada awlanya istriku ragu untuk pergi ke tanah suci tahun ini seorang diri, tetapi aku yang meyakinkannya. Ini panggilan ilahi, tak ada alasan untuk menunda lagi.
Dalam kutipan tersebut nampak keharmonisan sebuah keluarga yang selalu menjadi idaman tiap pasutri. Apalagi memiliki seorang anak yang terkesan manis dan tidak bandel. Hal inilah yang ingin diinspirasikan oleh pengarang. Pengarang ingin memberikan sebuah kisan yang dapat dijadikan panutan.
Dari segi kebahasaan, pengarang memilih menggunakan kata-kata yang mudah untuk dipahami, kembali ke pernyataan sebelumnya, pengarang ingin menginspirasi pembaca dengan bahasa santun dan dengan kisah yang bisa menjdikan mereka sebagai orang tua yang mengasihi kelarganya.
Cerita pendek ini juga tidak terlalu panjang yang biasanya bisa mencapai sepuluh lembar atau lebih. Inilah keunggulan cerpen Menanti Bunda Kembali, simpel tapi mempunyai banyak kesan bagi pembaca.
Cerpen ini juga dapat dikaitkan dengan pendekatan psikologi yang dialami oleh sang Ayah, Bunda, serta Ryan. Mereka memiliki pergolakan batin, masing-masing tidak ingin menyakiti perasaan satu sama lain. Mereka sangat menjaga keharmonisan keluarga. Di sinilah mereka mengalami guncangan psikologi ringan.
Pengarang juga ingin memaparkan bagaimana kedekatan seorang Ibu dengan anaknya. Ibu yang selalu mengkhawatirkan keadaan anaknya, Ibu yang senantiasa menemani hampir semua aktifitas anaknya. Hingga ketika si Ibu pergi berhaji anaknya merasakan rindu yang teramat, Ryan bergaming memanggil ibunya, mendoakan agar ibunya selamat seperti pada kutipan berikut
Perasaanku semakin tak menentu. Aku menjadi ingat istriku. Ryan pasti terlalu memikirkan bundanya. Aku tidak bisa tenang untuk menangani Ryan sendirian, makanya aku putuskan untuk membawaya ke rumah sakit.
Saat kubopong tubuhnya ke dalam mobil. Lirih ku dengar dia menyebut Bunda berulang kali
Sehebat apapun seorang dokter, ia pasti juga akan panik dengan kondisi anaknya saat itu. Seorang dokterpun masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak. Dan seorang dokterpun masih memaklumi seorang anak yang sakit karena teramat merindukan bunda tercintanya.
Secara garis besar, cerpen ini dapat dikategorikan sebagai cerpen inspiratif. Cerita yang disampaikan dapat pempersuasi pembaca untuk bertindak seperti yang diceritakan dan mengambil hikmahnya secara arif dan bijaksana. Jangan menilai sebuah karya sastra dari penggunaan bahasanya maupun segi penceritaannya, tetapi nilailah sebuah karya sastra tersebut dari seberapa besar pengaruh sebuah karya sastra tersebut bagi pembacanya.



Semoga bermanfaat.Thanks for visiting :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar