greeting

SELAMAT DATANG | WELCOME

Senin, 03 Maret 2014

cerpen _ "TERORIS"

TERORIS
Indah Kurniasari
Mungkin sudah lama sekali aku tak berjumpa dengannya. Orang yang benar-benar hebat, sayang sekali hidupnya tak dapat menikmati keindahan dunia ini. aku bersyukur sempat bertemu dengan orang macam dia. Iya, namanya Sumarlan Sastro Dikromo. Kalau dilihat dari namanya ia memang orang ndalem atau ada keturunan darah biru. Sayang beribu sayang ia sudah tidak diakui lagi oleh keluarga besarnya.
Bagiku, Sumarlan adalah sosok yang bersahaja. Ia sahabat yang sangat peduli dan ringan tangan. Senymannya, aku masih mengingatnya. Bagaimana kabarnya orang itu sekarang? Apakah di tempat barunya yang memang jauh itu ia baik-baik saja? Apakah ia bahagia di sana?
Aku mengenal betul siapa Sumarlan dari Ibuku. Ia pernah bersekolah di salah satu universitas negeri mengambil jurusan teknik nuklir. Saat ia menempuh pendidikan ia mengenal dan jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Laksmi. Gadis yang cantik ketika masa itu, berambut ikal tergerai sepinggang, memiliki tahi lalat kecil di atas bibirnya. Gadis yang setiap pagi menitipkan donat di kantin fakultas Marlan, dan setiap sore mengambil uang yang dihasilkan dari penjualan donat.
Tanpa pikir panjang Sumarlan mengutarakan niatannya untuk menikahi Laksmi kepada keluarga besarnya di Solo. Sontak keluarga besarnya menolak niatan Marlan untuk menikahi Laksmi yang bukan dari kalangan bangsawan. Laksmi hanyalah seorang gadis kampung penjual donat. Tapi Marlan sangat tertambat hatinya oleh pesona sederhana Laksmi. Niatannya untuk menikahi Laksmi sudah tidak bisa diganggu gugat. Akhirnya Marlan-pun dicoret namanya dari keluarga besar Sastro Dikromo.
Garis keturunan kebangsawanan Marlan sudah tidak ada. Pendidikan-pun terbengkalai. Aku tahu bagaimana perasaan Marlan pada saat itu. Di satu sisi ia ingin tetap mempertahankan kebangsawanan dengan segala fasilitas ekonomi yang mumpuni. Di sisi lain cinta Marlan terhadap Lastri sudah bulat, Marlan sudah nembung ke orang tua Lastri untuk dipinang di kaki gunung merapi, dan orang tua Lastri-pun setuju. Malu bukan kepalang jika ia harus mengingkari janjinya menikali wanita itu hanya karena pihak orang tuanya tidak setuju. Laki-laki harus punya kepribadian dan pantang menjilat air liurnya. Itulah yang membuatku bangga dengan Marlan.
Bagaimana-pun caranya ia bekerja mencari uang untuk melancarkan niat menikahi Lastri. Dengan bekal pendidikan yang tidak sampai tamat itu ia mampu menghasilkan uang untuk bekal menikahi wanita pujaan hatinya. Untungnya keluarga Laksmi di kaki gunung merapi itu tidak keberatan menerima Marlan yang sudah tidak kaya lagi, Marlan yang bukan bangsawan lagi. Senang hatiku melihat Marlan bahagia dengan keputusannya. Walaupun yang kutahu Marlan hidupnya serba kekurangan.
Tak kuketahui dari mana Marlan mendapat uang, yang kutahu ia sempat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi swasta, dengan beasiswa mahasiswa berprestasi, dengan jurusan yang berbeda, yakni teknik elektro. Lagi-lagi ia tak sempat menamatkan pendidikannya karena Laksmi melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Budiman. Kebutuhan ekonomi keluarganya saat itu lebih membutuhkan perhatian Marlan dibanding dengan menamatkan pendidikan S1-nya.
Sungguh lucu dan menarik kehidupan Marlan ini. Sebenarnya ia ini orang yang pandai, tampan, punya banyak mitra kerja. Sayang kerika dihadapkan dengan urusan Laksmi ia akan keok seperti ayam yang kalah diadu. Walaupun demikian, ia orang yang tidak pernah mengeluh. Mengeluh padaku saja ia tak pernah, mengeluh pada Ibuku yang ia kenal jauh hari sebelumku juga tak pernah. Kami ini dianggap seperti apa? Padahal aku dan Ibuku menganggap Marlan sebagai sahabat yang tiada duanya. Sikapnya yang tegas dan bijaksana akan tetapi mengayomi siapa saja membuatku hormat kepadanya. Aku merindukannya, kapan aku dapat bersua dengannya kembali meneguk segelas teh pahit di pagi hari sambil menantang matahari yang mulai meringis di pinggir sawah.
Aku ingat benar kehidupan Marlan yang bekerja apa saja demi menghidupi anak-anaknya, ada Budiman, Atika, dan Teguh. Apapun dilakoni Marlan agar ketiga anaknya dapat bersekolah hingga S1. Nasibnya-pun tidak akan sama dengannya yang magak. S1 saja tidak tamat dan akhirnya susah mendapat pekerjaan yang bagus bayarannya.
Hingga suatu hari ia memutuskan untuk bekerja di luar kota meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ia ingin bekerja dengan bayaran yang lebih banyak. Kalau ke Jogja di sana sudah banyak orang pandai yang bekerja dengan bayaran yang banyak. Ia putuskan untuk pergi ke Surabaya. Mungkin kota Surabaya tidak sekejam kota Jakarta dan Jogjakarta, apalagi tidak sekejam kaki gunung Merapi. Sejak hari itulah aku tak pernah bertemu dengannya. Tapi ia berjanji akan selalu berkirim surat untukku. Janji itulah yang aku nanti.
Di sana ia bertemu dengan orang yang memberinya pekerjaan yang mungkin sesuai dengan pendidikan yang pernah ia tempuh walaupun tidak tamat. Ia diminta untuk bekerja merakit senjata api dan peledak atau yang sering disebut dengan bom untuk kepentingan instansi militer. Kalau soal bayaran jangan ditanya. Bayarannya sangat menggiurkan. Berapa nominalnya akupun tak pernah dikabari, yang pasti ia selalu mengirimkan uang untuk keluarganya. Kehidupan keluarganya di kampung sini menjadi lebih baik.
Selama sepuluh bulan Marlan tak pernah lagi berkirim kabar mengenai dirinya, yang dikirimkan hanyalah segebok uang tanpa sepucuk surat. Aku dan keluarganya tak bisa mengetahui kabarnya. Ada apa dengan sahabatku ini? bosankah ia menulis surat kepadaku dan kepada keluarganya? Apa ia pikir dengan uang ini kerinduanku dan keluarganya bisa terobati? Sudah dua tahun Marlan tak pernah menjejakkan kakinya di tanah ini, tanah kaki gunung Merapi. Apa dikira sahabat dan keluarganya di sini tidak merindukannya?
Apalagi kami di sini mendengar berita tidak sedap mengenai Marlan dan pekerjaannya, yang katanya ia bekerja dalam gembong teroris yang memang akhir-akhir ini marak. Memang Marlan kerjaannya menyambungkan kabel biru ke katoda bermuatan negatif dan menyambungkan kabel merah ke katoda bermuatan positif. Kemudian menghubungkannya dengn tabung logam yang berisi bubuk mesiu. Tak lupa juga memasang timer dan pemantik dalam ke dua kutub tabung bubuk mesiu tersebut. Kabel warna hitam menghubungkan timer dengan pemantik. Ketika timer berjalan maka pemantik akan bergerak menuju kutub negatif hingga timer habis barulah pemantik terbuka dan menghasilkan percikan api yang membuat kutub negatif konslet dan menghantarkan listrik terbuka dalam tabung berisi bubuk mesiu. Dan BUM! Terjadilah ledakan. Ledakan yang dihasilkan dapat merusak sebuah gedung dengan tingkat kerusakan yang cukup parah.
Entahlah, semoga marlan tidak demikian. Tidak akan rela mengorbankan dirinya dengan cara meledakkan dirinya hanya untuk jaringan teroris yang tidak jelas apa maksudnya terhadap pertahanan dan keamanan. Namun apa yang kuharapkan dan diharapkan anak istrinya tidak sesuai dengan kenyataannya. Kami mendengar berita bahwa Marlan menjadi salah satu tersangka bom bunuh diri di salah satu pusat perbelanjaan Surabaya. Betapa hati ini sakit mendengar pemberitaan tersebut. Aku yang sangat menghormatinya jadi kikuk ketika mengetahui ia tak lagi memiliki akal sehat. Apa yang dipikirnkannya hingga sudi menjadi tersangka bom bunuh diri.
Dua minggu kemudian jenazah Marlan dalam peti sampai di rumahnya, di kaki gunung Merapi. Kami semua-pun menangisi Marlan. Anak-anaknya terisak-isak menatap peti jenazah bapaknya. Sudah dipastikan bahwa ia hancur berkeping-keping, mayatnyapun pasti sudah diidentifikasi dan diotopsi guna kepentingan penyelidikan dan penyidikan pihak kepolisian. Aku secara pribadi kecewa dengan sikap Marlan. Apa maksudnya dua tahun tidak pulang, sepuluh bulan tidak berkirim surat, pulang-pulang dengan citra yang buruk dan mati mengenaskan.
Keluarganya di kampung banyak dicemooh oleh tetangga, hingga tetangga desa-pun ikut mencemooh keluarganya. Anak-anaknya menanggung malu karena bapaknya adalah teroris. Istrinya pun jadi tak pernah keluar rumah, Laksmi jadi ngengkleng, banyak melamun, jadi sakit-sakitan. Anak-anaknya-pun sudah malu untuk pergi ke sekolah. Hanya si bungsu, Teguh yang pergi ke sekolah. Bukannya Teguh tidak malu terhadap cemoohan teman-temannya. Akan tetapi ketika kutanya mengapa ia hanya mengatakan ia harus menjadi orang sukses agar bisa cari duit yang halal gak seperti bapaknya.
Tiga bulan kemudian keluarganya mendapat kiriman berupa kotak besar berwarna coklat. Nama pengirimnya Sumarlan Sastro Dikromo. Hal tersebut mencengangkan keluarganya beserta anak-anaknya. Akupun beranggapan dan berharap bahwa Marlan masih hidup. Dalam kotak tersebut ada banyak surat yang tidak dikirim dan juga uang yang banyak beserta surat-surat penting. Aku membaca surat-surat Marlan.
Ia bekerja di tempat perakitan senjata api dan bom untuk kepentingan militer. Lama-kelamaan ia tersadar betapa anehnya tempat ia bekerja jauh dari keramaian, tempat ia bekerja tidak standar dengan tempat pembuatan atau perakitan senjata api dan bom, tempatnya hanya menggunakan bekas gudang yang sudah lama tidak dipakai. Jalan menuju tempat bekerjanya hanya setapak dan tertutup oleh semak dan pepohonan yang tinggi dan rimbun. Anehnya lagi tempat tersebut tidak pernah didatangi oleh instansi militer untuk mengambil pesanannya. Katanya ia bekerja untuk kepentingan militer akan tetapi ia tak pernah mengetahui adanya transaksi jual beli yang sah secara hukum.
Para pekerja dilarang keluar area gudang selama ingin bekerja di tempat tersebut. Kalaupun boleh keluar hanya sehari semalam setiap akhir bulan. Itupun pekerja mendapat fasilitas antar jemput di pangkalan. Marlan pun tak bisa mengingat ke mana jalan menuju gudang tua itu. Hingga suatu hari Marlan tanpa sengaja menguping pembicaraan bos dengan bos besar, ia mendengar rencana pengeboman salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Apesnya ia kepergok kaki tangan bos saat menguping pembicaraan dalam ruang yang memang tidak boleh dilalui pekerja perakit.
Sejak itu Marlan bekerja di bawah todongan pistol di kepalanya. Ia harus bekerja dengan paksaan, ia sama sekali tak diijinkan keluar area bekerja walaupun sebulan sekali. Itulah alasan mengapa Marlan selama sepuluh bulan tak pernah berkirim surat, hanya mengirimkan uang hasil kerjanya. Akan tetapi Marlan tetap menulis surat dan mengutarakan semuanya ke dalam surat-surat ini. surat yang ditulisnya hanya dikumpulkan begitu saja. Uang, buku tabungan, dan sertifikat rumah yang sempat ia beli di daerah Solo hanya begitu saja terkumpul di dalam kotak.
Surat selanjutnya tidak ditulis oleh Marlan, akan tetapi ditulis oleh teman sepekerjaannya, namanya Anton. Dalam surat anton ditulis bahwa Marlan mengalami kematian sementara setelah menelan pil yang diberikan oleh bos tersebut. Setelah sadar Marlan sama sekali tak mengenali Anton maupun rekan-rekan sepekerjaannya. Anton hanya diberi amanat oleh Marlan untuk melanjutkan menulis surat tentang Marlan untuk keluarganya di Magelang, kaki gunung Merapi jika-jika Marlan menunjukkan sikap yang berbeda tak seperti biasanya.
Bulan Oktober Marlan keluar dari gudang tua tersebut dengan tanpa ingatan sedikitpun pada masa lalu. Ia menggunakan jaket tebal berwarna coklat yang di dalamnya terkalung bom. Ia berjalan dengan tegak sekali tanpa sedikitpun rasa takut maupun khawatir kalau sewaktu-waktu bom tersebut meledak.
Bulan November tak ada kabar lagi tentang Marlan. Barulah pada akhir bulan Maret kotak surat Marlan sampai di kampung halaman dan berisi sejuta kejutan baik dan kejutan menyesakkan dada. Dengan surat-surat Marlan tersebutlah keluarganya dapat sedikit menghela nafas. Setidaknya Marlan hanya korban jaringan teroris di negeri ini. Marlan melakukannya bukan karena kemauannya, akan tetapi karena pengaruh pil yang ditegaknya beberapa bulan lalu menjelang ajalnya.
Berbekal uang dan sertifikat rumah sederhana di Solo mengubah nasib kami semua. Aku masih bangga kepada Sumarlan Sastro Dikromo, ia tak pernah mengeluh kepadaku maupun kepada Ibuku. Terserah orang lain mengenal Marlan sebagai teroris, yang kutahu ia adalah bapak dan sahabat terhebat di dunia yang pernah aku miliki. Aku bangga menjadi anak Sumarlan Sastro Dikromo, berkat bapakkulah aku mampu menjadi orang yang berguna bagi bangsaku dan meneruskan cita-cita bapak untuk lulus S1 bidang teknik elektro. Terima kasih, Bapak telah memberiku nama Teguh Prakoso. Seteguh kepercayaanku kepada bapak.

Solo, bumi baru aku berpijak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar