greeting

SELAMAT DATANG | WELCOME

Senin, 03 Maret 2014

cerpen _ "GERIMIS DI PELATARAN"

GERIMIS DI PELATARAN
Indah Kurniasari

Aku sedikit mengingat sebelum aku tak dapat menggerakkan seluruh syaraf di tubuhku. Sekitar lima menit yang lalu aku memacu mobilku dengan kecepatan 120 km/jam saat melintasi jalan menikung ini. Itu saja yang aku ingat, selebihnya aku tak bisa mengingat dengan jelas, sekitar lima menit yang lalu itu adalah teriakan terakhirku.
Aku masih bisa mendengar deru suara mesin mobilku yang tersendat-sendat, antara mesin masih menggebu-gebu dan mesin yang kemasukan sesuatu. Aku mendengar kaca pecah, mendengar ranting yang patah, mendengar suara yang menubruk-nubruk, dan mendengar jantungku yang masih berdetak. Terasa sesuatu yang hangat mengalir dari kepala ke pipiku, cairan yang hangat juga mengalir melalui hidungku. Cairan yang sepertinya kental sedikit berbau amis.
Aku  tidak bisa memfokuskan pendengaranku. Aku harus mendengarkan apa? Semua suara terjadi bersamaan. Suara yang berasal dari mobilku maupun suara yang timbul akibat aku mulai merasakan fantasi-fantasi masa lalu. Suara decitan ban mobilku, aku masih mendengarnya hingga terngiang-ngiang. Suara ambruknya pembatas jalan yang cukup keras hingga membuat seluruh badanku terasa menghantam segala sesuatu.
Aku rasa ini masih senja dan belum benar-benar terbenam.
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara sirine mendatangiku. Sepertinya banyak mobil bersirine menghampiriku. Aku berharap yang datang itu adalah mobil ambulan, bukan mobil dari pihak kepolisian. Di sela-sela suara mobil bersirine yang nyaring aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku dengan nada yang hendak menangis. Suaranya lirih dan sendu memanggil namaku, Ardhanareswari.Melalui suara itu aku merasakan kasih sayangnya di tiap panggilannya kepadaku. Aku ingin menjawabnya, apa daya aku tak mampu beranjak menggerakkan tubuhku, hanya bisa mendengar tak bisa melihat. Entahlah saat itu aku memang ingin memeluknya, seorang wanita hebat yang telah melahirkanku ke dunia ini.
Wanita hebat itu, sepertinya aku mengingat suaranya. Beberapa jam yang lalu aku bertengkar dengan wanita itu. Iya, itu Ibuku. Aku ingin menangis tatkala ibu memanggil namaku. Ternyata wanita itu tak benar-benar marah denganku seperti yang telah aku bayangkan beberapa jam yang lalu. Entah makhluk seperti apa diriku ini? Ibu, wanita yang sabar, tidak benar-benar marah padaku. Aku ingin memeluknya namun tubuhku tak mampu bergerak.
***
Aku mendengar pintu mobilku dibuka secara paksa dengan benda tumpul. Bising sekali suaranya, aku tak bisa berkonsentrasi, semua suara hadir dalam waktu yang amat singkat dan relatif bersamaan. Rasanya ingin aku berteriak agar suara-suara yang saling membaur itu lenyap dan biarkan aku berkonsentrasi mencari suara ibuku. Aku merasakan sentuhan seseorang mengenai tubuhku dan berusaha menyentuh urat nadiku, lalu orang itu berteriak seolah menang lotre saja girangnya, “Si korban masih hidup!! Si korban masih hidup!! Siapkan ambulan! Kita akan evakuasi ke Rumah Sakit terdekat.”
Aku ingin tertawa bahagia karena sirine yang kudengar adalah ambulan. Tapi aku juga ingin menangis kenapa di saat seperti ini aku tak bisa membuka mata. Setidaknya jika aku membuka mata aku bisa menyaksikan segala kekonyolan yang telah aku perbuat dan mentertawakannya dengan terbahak-bahak. Layak artis yang dikerubungi banyak orang. Bodoh!
Rasanya disaat seperti ini aku ingin membual pada kenyataan hidup yang telah aku alami. Kenyataan hidup yang sengaja aku ubah demi kesenanganku sendiri. Kenyataan yang seharusnya memang harus aku hadapi dengan lapang. Akan tetapi dengan lapang pula aku berlari dari kenyataan. Tapi tak ada waktu lagi untuk membual kenyataan bodoh yang telah aku alami.
Aku merasakan sakit disekujur tubuhku, apa lagi bagian kepala. Tapi aku tak bisa merintih kesakitan. Untuk membuka mata saja otakku tak mampu mengendalikan syaraf motorik di area mata. Aku mendengar beberapa orang membacakan doa untukku. Aku tidak tahu tepatnya doa apa itu, doa agar aku lekas sembuh atau doa agar aku tak merasakan kesakitan seperti ini.
***
Sepertinya hari sudah berganti malam, aku mengetahuinya karena sudah tidak ada suara disekitarku. Yang ada aku mendengar suara mesin baja menderu di jalan yang terdengar jauh sekali, yang aku dengar hanya suara jam yang berdetak seperti jantungku yang masih berdetak. Tatkala seperti ini aku mengingat secuil kisah masa lalu.
Aku adalah anak semata wayang dalam sebuah keluarga kecil yang punya banyak aturan. Mungkin aku bisa dibilang dewasa sebelum waktunya, aku mampu menerima kebobrokan pernikahan orang tuaku dengan lapang dada walaupun aku harus menahan sakit karena hidupku serba terbatas. Terbatas bukan dalam keadaan ekonomi, tapi terbatas dalam menikmati kehidupanku yang seharusnya bahagia. Harusnya sihbahagia.
Aku ini seakan-akan haus akan kasih sayang orang tua yang sedikitpun tidak dapat aku merasakannya. Harusnya aku sadar dari awal, aturan yang orang tua berlakukan untukku itu adalah bukti sayang mereka padaku. aturan itu untuk kebaikanku, untuk masa depanku sendiri. Tapi aku tak dapat berfikir demikian pada masa SMA, aku justru mencari cinta dari lawan jenis dengan mencicipi segala kehidupan berbau seks. Aku masih ingat dengan siapa aku menyerahkan keperawananku saat itu. Dengan lelaki yang aku pikir adalah orang yang benar-benar mencintaiku. Akan tetapi tidak demikian pula dengan diriku. Aku tak bisa merasakan adanya getaran cinta dengan lelaki itu walaupun aku sudah melakukan hubungan seks dengan laki-laki itu.
Sejak saat itu aku selalu mengambil jalan kehidupan yang hitam. Aku berpetualang untuk melabuhkan cintaku ini dengan jalan melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri. Aku masih mengingat ada delapan orang laki-laki yang telah menggerayangi tubuhku. Mereka mau menerimaku apa adanya dengan catatan aku sudah tidak perawan. Tak dapat kubayangkan lagi saat tubuhku ini dibelai mesra oleh banyak lelaki selama sepuluh tahun ini. Melakukan percumbuan tanpa ada rasa cinta, dan sering membuat lawan cumbuku mengkomplain karena aku tidak bisa lepas dalam melakukan hubungan badan.
Walaupun kehidupan psikologiku sungguh diluar dugaan orang-orang, aku memang seorang yang pandai dalam bidang akademik di sekolah, kampus, hingga di kantor. Masih sebagai pegawai baru di kantor tempat aku bekerja, dalam enam bulan sudah mendapatkan promosi dengan bayaran yang cukup tinggi bagai pegawai baru sepertiku ini. orang-orang tak akan ada yang bisa menerawang kehidupanku. Orang tuaku bahkan sekalipun. Sungguh gila kehidupanku. Mengapa aku tak bisa bersyukur dengan anugerah Tuhan terhadap diriku ini? aku sudah diberi tubuh yang cantik, sintal, dan juga dengan otak yang canggih. Mengapa aku tak menyadari semua ini? mengapa aku harus menyadari pemberian Tuhan yang sangat-sangat berharga ini saat aku terbaring dengan infus dan balutan perban di mana-mana?
Saat tubuh ini tak semolek dulu karena kecelakaan itu, bahkan tubuh ini tak lagi dapat dijadikan pemuas lelaki berhidung belang. Yang kuingat hanya ada seorang yang pernah membuatku berdebar kencang tanpa ia harus menelanjangiku di kamar sewaan. Hanya dengan tatapan matanya yang menenangkan itu mampu melumpuhkan segala syarafku. Dia bukan dari golongan priyayi, dan aku sudah mengenalnya cukup lama. Dan dia tidak seperti kebanyakan lelaki hidung belang yang aku temui.
Aku ingat pertama kali pertemuanku dengan Hasan. Dunia malam yang penuh dengan balapan liar di jalanan. Saat itulah aku mengenalnya. Akan tetapi aku baru merasakan ada getaran baru-baru ini. Dia beda dari lelaki yang umumnya aku temui. Dia sama sekali tak pernah mengajakku kencan atau sebangsanya. Seolah-olah dia tak pernah menyukaiku sedikitpun. Dia tak pernah meladeni segala usahaku untuk mendekatinya.
Aku tak pernah ingin kehilangan lelaki sejenis Hasan ini. Berbagai cara telah aku lakukan agar Hasan mengenalku lebih dalam dan mau meniduriku agar aku tahu apakah Hasan benar-benar orang yang aku cintai hingga membuatku berdebar kencang. Sungguh perilaku yang menjijikkan, menjatuhkan harga diri hanya demi lelaki seperti Hasan. Kemolekan tubuhku tak mampu melumpuhkan logikanya. Ia tetap lelaki yang tak sedkitpun tertarik padaku. “Aku memang sayang kepadamu, tapi sayang ini hanya sebatas teman.” Kata-kata itu masih terngiang-ngiang hingga saat ini.
Tiba-tiba aku merasakan mata ini mengeluarkan air yang mengalir hingga ke pipi. Walau aku masih terpejam tak dapat dibuka, tapi perasaan ini, otak ini masih bekerja layaknya orang yang hidup normal. Baru kali ini aku menangis konyol, menangisi segala kebodohan masa laluku hingga menjadikanku seperti ini, terbaring di atas ranjang rumah sakit. Tak dapat melakukan apapun hanya bisa mengingat masa lalu tanpa ada seorangpun yang dapat aku jadikan tempat tumpuan beban hidup ini. aku tak punya teman, aku memang tak punya teman. Hidupku hanya kuhabiskan dengan banyak laki-laki. Oh Tuhan!!
Aku mengingat tamparan orang tuaku yang bertubi-tubi mendarat dipipiku. Pukulan rotan tak luput dari punggungku.
“Siapa yang menghamilimu, Nak? Katakan pada ibu!” sambil menamparku berulang kali. Akupun tak menangis karena tamparan itu.
“Dasar anak memalukan! Kau ini anak semata wayang! Harusnya bisa menjaga nama baik keluarga!” kata-kata dari ayahku dengan pukulan rotan yang mengenai tubuhku.
“Apa peduli kalian tentangku? Kalau hamil terus kalian tak sudi memiliki anak sepertiku yasudah gugurkan saja kandungan ini! beres kan?” sahutku sambil berdiri mendekap bekas pukulan orang tuaku.
Aku ingat betul karena kecerobohanku menaruh alat pengecek kehamilan di atas meja riasku. Aku masih ingat betapa senangnya aku akan kehamilan itu. Tak seperti biasanya aku risau karena hamil oleh pacar-pacarku dan dengan obat aku meluruhkan kandunganku. Saking senangnya aku hamil karena orang yang aku cintai aku tak membuang tespack itu hingga orang tuaku menemukannya.
“Aku tak sudi punya anak sepertimu! Sudah berapa duit ayah habiskan hanya untuk menyekolahkanmu hingga kau bisa bekerja seperti ini? apa kau tak menghargai kerja ayahmu ini? Ya Allaaaahh.. apa dosaku hingga kau biarkan anakku lalai dan hamil di luar nikah?” ayahku menangis, baru pertama kalinya aku melihat ayahku menangis. Entah mengapa aku juga meneteskan air mata.
Ayah membereskan pakaianku dan melemparkannya ke luar rumah. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah jalan. Melemparkan kunci mobilku, yang aku beli dengan uangku sendiri tepat mengenai kepalaku. Ibu-pun berlari ke pelataran sambil menangis tersedu-sedu. Ia juga mengatakan hal yang sama seperti ayahku. Baru kali ini aku melihat ibu dan ayahku memiliki pemikiran yang sama. Masihkah aku berbahagia dengan kehamilanku ini? haruskah aku meminta pertanggungjawaban dari orang yang aku kejar-kejar demi bercinta dengannya?
Kini tinggal aku dan segala penyesalanku. Terbaring tak berdaya mengharap keajaiban dari Tuhan yang masih menyayangiku atau sudah tak peduli lagi terhadapku. Harusnya aku menjadi anak seperti apa yang diinginkan orang tuaku. Ardhanareswari, yang berarti bidadari cantik. Harusnya perilakuku juga cantik. Tak perlu mencari kebebasan dan cinta yang semu dengan jalan yang salah. Padahal Tuhan sudah memberikan segala sesuatu yang aku perlukan untuk menjadi Ardhanareswari.
Masih sempatkah aku terbangun dan mengucap beribu maaf untuk orang tuaku? Maaf untuk Tuhan yang telah aku lalaikan selama bertahun-tahun? Masih adakah kelanjutan kisahku? Bagaimana kabar kandunganku? Bagaimana kabar orang tuaku? Bagaimana kabarmu, Hasan? Aku sudah tak tahu lagi tentang diriku ini. masihkah ada gerimis di pelataran rumahku?
*** SELESAI ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar