greeting

SELAMAT DATANG | WELCOME

Senin, 24 Desember 2012

Makna Bentuk yang Diplesetkan



BEBERAPA MAKNA BENTUK YANG DIPLESETKAN


MAKALAH
UNTUK MELENGKAPI TUGAS MATA KULIAH
Semantik Bahasa Indonesia
yang dibina oleh Bapak Sunaryo HS



oleh
Indah Kurniasari
110211413055
Offering A

  


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
Desember 2012

A.      Pengertian
Belakangan ini bahasa Indonesia mengalami proses pembentukan kata dengan cara memplesetkan sebuah kata sehingga makna kata itu bertambah dari makna semula. Proses itu disebut dengan istilah plesetan kata dan hasil proses itu disebut kata plesetan.
Plesetan atau yang biasa disebut sebagai perubahan bentuk kata yang mirip dengan makna pragmatik yang baru pula. Plesetan dapat berupa humor tingkat tinggi maupun tergolong dalam bentuk kritik secara tidak langsung. Timbulnya plesetan dapat diakibatkan oleh adanya bentuk yang sama dan memiliki sebuah kecenderungan untuk menjadi populer. Umumnya bahasa plesetan dapat berupa kata maupun kelompok kata.
Robert Sibarani (dalam Antonius, 2008) menyatakan bahwa istilah kata-kata plesetan merpakan suatu hasil dari proses pembentukan kata dengan cara memplesetkan sebuah kata sehingga makna katu itu bertambah dari maknanya semula. Plesetan bahasa, sebagai sebuah proses, pada akhirnya akan memperlihatkan jenis bahasa plesetan yan terdapat dalam bahasa Indonesia.
Dalam istilah asingnya, plesetan disebut pun. Pun atau paronomasia merupakan permainan logika kata. Merusak homonim sebagai sinonim dengan antitesa. Mengaduk-aduk pikiran pendengar dengan ilusi imajinasi tentang kata dan kalimat yang dibentuk dan dipadukan. Sehingga membuat sebuah kalimat yang berkonotasi tertentu.
Permainan kata antarbahasa (interlangual pun) adalah pemanfaatan kehomoniman aksidental kata-kata yang berasal dari leksikon bahasa yang berbeda. Misalnya frase bahasa Inggris As you wish ‘seperti yang Anda kehendaki’ dengan sedikit manipulasi ejaannya diplesetkan menjadi frase bahas Jawa As yo wis ‘ah ya sudah’ sebagai cermin kepasrahan, keputusasaan, dan sikap menerima. Permainan kata seperti ini mirip seperti yang ditemui pada iklan rokok Wismilak yang memadukan nama produknya dengan frase bahasa Inggis wish me luck ‘doakan saya mendapat keberuntungan’.
Akhir-akhir ini dalam penggunaan bahasa Indonesia, meskipun tidak dalam situasi resmi, yakni gejala bentuk yang diplesetkan. Gejala bentuk yang diplesetkan menarik untuk dibicarakan, terutama dilihat dari segi makna, pesan yang disampaikan. Bentuk yang diplesetkan merupakan tindakan kesewenang-wenangan pemakai bahasa untuk menggunakan lambang tertentu yang tentu saja ingin memaknakan sesuatu.
Heryanto (dalam Pateda, 2011:153) mengatakan bahwa plesetan digambarkan sebagai kegiatan berbahasa yang mengutamakan atau memanfaatkan secara maksimal pembentukan berbagai pernyataan dan aneka makna yang dimungkinkan oleh sifat sewenang-wenang pada kaitan pertanda – makna –realitas empirik.
Maksud dari pernyataan di atas adalah ketika seseorang berbicara pada mulanya menggunakan bahasa dan struktur kata-kata yang umum, akan tetapi pembicara membubuhkan bentuk kata yang diplesetkan sehingga merujuk pada suatu hal yang telah disepakati oleh pemakai bahasa. Setelah pendengar mendengar bentuk yang diplesetkan tiba-tiba ia bisa tertawa maupun tersinggung karena paham dengan maksud dari bentuk yang diplesetkan.
B.       Bentuk-Bentuk Plesetan
Dalam hubungan dengan makna yang diplesetkan, Heryanto (dalam Pateda, 2011:153) membagi bentuk yang diplesetkan atas tiga jenis. Jenis Pertama, jenis plesetan untuk berplesetan itu sendiri. Pada jenis ini yang terjadi adalah kenikmatan bermain-main bahasa di dalam bahasa itu sendiri tanpa mempedulikan kaitannya dengan dunia di luar bahasa. Jenis pertama terdiri dari dua subkategori yakni:
1.    Subkategori pertama merupakan plesetan yang menuntut kemahiran, mengundang tawa penonton dengan mendistorsi kata sehingga terbentuk kata-kata lain yang sebenarnya tidak mempunyai sangkut paut atau justru tidak bermakna tetapi terdengar lucu jika dibincangkan. Misalnya kata partisipasi dapat diplesetkan dengan bentuk partisisapi.
2.    Subkategori kedua yakni sejumlah graffiti yang mendistorsikan istilah pribumi menjadi sedikit kebarat-baratan tanpa sepenuhnya melenyapkan unsur pribumi itu. Misalnya pada kata warung Takashimura dapat diplesetkan dengan bahasa Jawa tak kasih murah.
Jenis Kedua merupakan plesetan alternatif yang mengajukan sebuah penalaran atau acuan alternatif terhadap yang sudah atau sedang lazim dalam masyarakat. Dalam plesetan jenis keduaini terjadi penjegalan terhadap sesuatu yang sudah lazim dalam masyarakat. Ada dua subkategori yakni:
1.    Subkategori pertama yaitu sejumlah praktik berbahasa di antara para remaja yang biasa disebut bahasa prokem atau walikan. Plesetan jenis prokem mrengubah penanda, bukan makna atau hubungan referensial dengan realitas di luar bahasa.
2.    Subkategori Kedua yakni plesetan seperti yang tampak pada karya-karya atau teater Putu Wijaya. Pada karya Putu Wijaya yang tak hanya sekadar memberikan lelucon-lelucon tetapi juga menampilkan persoalan-persoalan kehidupan masyarakat secarasungguh-sungguh. Dengan kata lain plesetan bukan untuk berpleset tapi plesetan yangmengandung kritik.
Jenis Ketiga yakni plesetan oposisi karena ia memberikan nalar dan acuan secara konfrontatif  betubrukan apa yang sudah atau sedang lazim dalam masyarakat. Plesetan jenis ini bukan sekadar menggantikan satu tanda atau makna dengan tanda atau makna lain, tetapi menjungkirbalikkan nilai perlawanan frontal terhadap tanda atau makna yang telah ada. Yang banyak menjadi sasaran plesetan jenis ini adalah singkatan. Misalnya singkatan Rumah Sangat Sederhana (RSS), diplesetkan menjadi Rumah Sangat Sengsara.
C.      Makna Plesetan
Pada dasarnya jenis plesetan yang pertama (plesetan untuk berplesetan) tidak berminat menyampaikan pesan atau komentar apapun tentang realitas dunia di luar bahasa. Dengan kata lain, makna lepas dari acuan.
Plesetan jenis kedua (plesetan alternatif) menggugat penunggalan makna lazim tanpa berusaha meniadakan yang terlanjur lazim, sedangkan pada plesetan jenis ke tiga (plesetan oposisi), orang bukan terbuai pada kenikmatan bermain-main degan penanda, atau memberikan kemajemukan nilai alternatif pada acuan realitas, tetapi mengukuhkansuatu nilai tanding terhadap yang sudah lazim dalam masyarakat.
Plesetan merupakan gejala baru dalam penggunaan bahasa Indonesia. plesetan berhubungan dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kemauannya. Masalah kini, yakni, apakah plesetan dianggap sebagai senjata ampuh kaum lemah melawan kaum yang beruntung, atau plesetan hanya berbentuk pelarian diri dari kenyataan yang sulit.
D.      Penggunaan
Dalam penggunaan kebahasaan sehari-hari khususnya dalam dunia pendidikan ternyata juga memiliki istilah-istilah baru yang diplesetkan baik bertujuan untuk mengkritik maupun memang hanya sekadar untuk bersenang-senang. Berikut contoh penggunaan makna plesetan dalam dunia pendidikan.
1.    Bentuk plesetan untuk berplesetan
Contoh bentuk plesetan berikut terinspirasi dari iklan dalam media elektronik.
a.    Sayangi IP-mu!! GARNIER
b.    Jawaban ujian bocor ? pake NODROP, pelapis soal anti bocor
c.    PA (Pembimbing Akademik): nilai kamu kenapa C semua? | mahasiswa: saya minum UC1000, mengandung 100% nilai C
d.   Dosen: gimana uasnya?
Mahasiswa: MAMAMIA LEZATOS
e.    Dosen: Maaf bapak telat
Mahasiswa: emang darimana pak?
Dosen: dari TELKOMSEL
f.     IP-mu mengalihkan duniaku
g.    Besok UAS tapi nggak belajar?? APA KATA DUNIA ??
h.    dapet E ?! Enjoy Aja
i.      Dosen: kenapa milih saya jadi pembimbing kamu?
Mahasiswa: Ga ada loe ga rame!
j.      Punya masalah dengan nilai UAS? PEGADAIAN “mengatasi masalah tanpa masalah”
2.    Plesetan Alternatif
Contoh berikut kata-kata yang mengalami prokem atau pembalikan bentuk kata. Biasanya gejala bahasa yang demikian teraplikasi pada masyarakat malang.
a.    Umak odis ladub jam orip? (kamu sido budal jam piro)
Kamu jadi berangkat jam berapa?
b.    Ayas ngalup. (saya pulang)
c.    Nawak-nawak hebak kadit osi rudit. (kawan-kawan kabeh tidak iso tidur)
Teman-teman semua tidak bisa tidur,
d.   Ayahab. (bahaya)
e.    Tangames. (semangat)
f.     Tamales igap. (selamat pagi)
g.    Enarupes. (sepurane)
Maaf
3.    Plesetan oposisi
Contoh berikut plesetan singkatan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) beserta analisis sosialnya.
Pertama, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tidak Siap Pakai. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa para guru yang bertugas sebagai “loko” pendidikan belum siap menerima perubahan. Para guru tampaknya akan lebih siap apabila semua dokumen kurikulum telah disiapkan dengan rapi dari Jakarta seperti kurikulum sebelumnya. Jadi guru tidak perlu lagi direpotkan menentukan indikator setiap KD, menyusun silabus dan RPP, atau menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Kedua, KTSP diplesetkan sebagai Kurikulum Tetap Sama Produknya. Plesetan ini mengisyaratkan bahwa KTSP yang seharusnya mencerminkan karakter siswa didik, latar belakang sosial-budaya masyarakat setempat, dan kondisi sekolah, kenyataannya tak ada bedanya. KTSP antarsekolah, bahkan di seluruh Indonesia sama saja produknya. Itu karena “kreativitas” para guru melakukan copy-paste draft KTSP dari sekolah tertentu atau model KTSP yang dikeluarkan BSNP.
Ketiga, KTSP diplesetkan menjadi Kalau Tidak Siap Pensiun. Begitu rumitkah KTSP itu sehingga benar-benar membebani guru? Meski hanya sekadar plesetan, idiom-idiom seperti tampaknya mencerminkan carut-marutnya dunia pendidikan di Indonesia.
Ada pula bentuk-bentuk singkatan yang diplesetkan. Misalnya saja pada kata STMJ yang mulanya bermakna Susu Telur Madu Jahe menjasi Solat Terus Maksiat Jalan. Kata UGD yang makna awalnya Unit Gawat Darurat menjadi Ubet Golek Duwit.
E.       Penutup
Makna bentuk yang diplesetkan merupakan sebuah gejala dari fenomena pemakai bahasa yang pada mulanya mengalami kesilapan lidah hingga diupayakan menyerupai dan menimbulkan makna yang dirasa negatif. Pada dasarnya bentuk plesetan ini merupakan sebuah bentuk makna bahasa Indonseia yang baru.
Daftar rujukan
Pateda, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rhineka Cipta.
Antonius, Rikky. 2008. Bahasa Plesetan dalam Acara Democrazy di MetroTV. Skripsi Universitas Sumatera Utara.
Daeng. 2008. Kumpulan Plesetan Iklan di Dunia Pendidikan, (Online), (http://portalmediaonline.blogspot.com/2012/09/kumpulan-plesetan-iklan-di-dunia.html#ixzz2FU1JE9w8), diakses 17 Desember 2012.


Tersedia dalam format PDF.
Klik DI SINI untuk mengunduh file via 4shared

Terima Kasih atas kunjungan Anda.
Semoga Bermanfaat :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar