greeting

SELAMAT DATANG | WELCOME

Jumat, 12 Oktober 2012

Contoh Apresiasi Puisi


KRITIK SOSIAL LUGAS ALA SUJIWO TEJO

Lautan Tangis
Berlayarlah di laut keringat kami
Tertawalah di laut keringat kami
Berselancarlah di laut keringat kami
Perpesiarlah di laut keringat kami

Bergerak, bergerak, tetap bergerak, menderap langkagh, merapat barisan
Bergerak, bergerak, tetap bergerak
Berat kita junjung, ringan kita jinjing
Bergerak, bergerak, tetap bergerak
Berlumur keringat dan air mata

Berlayarlah di laut keringat kami
Tertawalah di laut keringat kami
Berselancarlah di laut keringat kami
Perpesiarlah di laut keringat kami

Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Amuk kita timbun, munjung bagai gunung
Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Amuk kita tunda, gunung tak meletus
Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Sejak dulu nahan sejuk bagai gunung

Pesta poralah di gunung kesabaran kami
Dansa dansilah di gunung kesabaran kami
Injak-injakkan kakimu di gunung kesabaran kami
Buang botol-botol minummu di gunung kesabaran kami

Bersabar, bersabar, sampai habis sabar
Sabar jadi riak, riak jadi ombak
Bersabar, bersabar sampai habis sabar
Bergelora gelora begunung gunung ombak
Gulungan gelombang keringat tangisan kami

Hati-hati jangan kau terlena di laut tangis kami
Hati-hati jangan kau ha ha hi hi di laut keringat kami
Awas, awas, awas di gunung kesabaran kami
Mawas mawas dirilah di gunung kesabaran kami.

          Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 50 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
          Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
          Penyair dan dramawan Sujiwo Tejo menciptakan sebuah puisi untuk menggambarkan kegalauannya pada berbagai persoalan yang sedang terjadi di tanah air. Dalam puisinya itu, Sujiwo Tejo mengkritik kelompok elit yang sering kali mempermainkan kesabaran rakyat. Ada pesan tersirat dalam puisi itu bahwa kesabaran rakyat bagaimanapun banyaknya, tetap punya batas. Dan sekali batas itu dilewati, maka siap-siaplah menerima amuk dan kemarahan.
          Puisi sujiwo tejo dapat dianalisis melalui pendekatan analitis. Pendekatan analitis ialah pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan dan mengimajinasikan ide-idenya, sikap pengarang, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam membangun totalitas bentuk dan totalitas makna.
Pada bait pertama, Berlayarlah di laut keringat kami | Tertawalah di laut keringat kami | Berselancarlah di laut keringat kami | Perpesiarlah di laut keringat kami menunjukkan seolah-olah rakyat yang di ceritrakan dalam puisi tersebut sudah paham benar dengan situasi yang sedang mereka hadapi. Seolah-olah sudah tidak ada lagi hal yang perlu ditutup-tutupi lagi, sudah menjadi rahasia umum. Dalam bait tersebut perasaan rakyat digambarkan dengan lautan keringat hingga dapat digunakan untuk berselancar, berlayar hingga berpesiar. Seakan-akan terlalu banyak keringat yang sudah mengucur.
          Sedang pada bait ke dua, Bergerak, bergerak, tetap bergerak, menderap langkagh, merapat barisan | Bergerak, bergerak, tetap bergerak | Berat kita junjung, ringan kita jinjing | Bergerak, bergerak, tetap bergerak | Berlumur keringat dan air mata menggambarkan keadaan laut yang bergerak-gerak seperti apa yang dilakukan oleh rakyat yang juga bergerak demi kelangsungan hidup mereka, menjunjung penderitaan mereka masing-masing, bermandikan keringat dan air mata. Ketertindasan mereka sudah terlalu banyak bak lautan yang siap tumpah ke dataran.
          Pada bait ketiga, Bersabar, bersabar kita sejak dulu | Amuk kita timbun, munjung bagai gunung | Bersabar, bersabar kita sejak dulu | Amuk kita tunda, gunung tak meletus | Bersabar, bersabar kita sejak dulu | Sejak dulu nahan sejuk bagai gunung menceritakan kesabaran rakyat dengan tingkah laku para punggawa negara. Sudah menahan sabar sejak dahulu, meredam amarah agar tidak menjadi kisruh. Gambaran kesabaran rakyat diibaratkan sebagai gunung yang hendak meletus akan tetapi masih tertunda.
          Pada bait selanjutnya, menggambarkan tingkah punggawa negara di mata rakyatnya. Kesabaran rakyat diabaikan oleh punggawa negara. Ini bukanlah sebuah rahasia pribadi, akan tetapi sudah menjadi rahasia nusantara. Di mata rakyat, pemerintah telah banyak berbuat kesalahan, pemerintah dengan tidak sadar dan tidak terlalu memikirkan dampak yang telah menindas rakyat. Keringat dan air mata yang mengucur dari rakyat tak pernah sekalipun dilirik oleh pemerintah.
          Batas kesabaran manusia dalam puisi ini sudah mencapai pada batasnya. Sewaktu-waktu mereka (rakyat) dapat melampiaskan amarahnya, dapat melampiaskan kekecewaannya.
          Sujiwo Tejo dalam menyampaikan ide gagasan puisinya termasuk lugas, hanya mengibaratkan kesabaran sebagai gunung dan penderitaan yang dijunjung bagai lautan yang siap membabi buta dikala pemerintah lengah. Sikap kepangarangan Sujiwo Tejo pro dengan rakyat, menyampaikan aspirasi rakyat melalui puisi. Apalagi puisi ini dibacakan di depan pelataran gedung KPK dalam pagelaran mendukung program pemberantasan korupsi pada 21 november 2009.
          Sujiwo Tejo, seorang sastrawan yang sering melontarkan sindiran kepada pemerintah atau kaum-kaum borjuis yang duduk di singgasana pemerintahan untuk rakyat. Ia adalah sastrawan yang sangat peduli terhadap problematika yang dihadapi negeri ini.

DAFTAR RUJUKAN
Tanpa nama. 2009. Puisi Politik Sujiwo Tejo: Tertawalah di Laut Keringat Kami, (Online),(http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/11/23/84317/PUISI-POLITIK-Sujiwo-Tejo:-Tertawalah-di-Laut-Keringat-Kami), diakses 21 September 2012.
Tanpa nama. 2012. Sujiwo Tejo, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Sujiwo_Tejo), diakses 21 September 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar