greeting

SELAMAT DATANG | WELCOME

Minggu, 21 Oktober 2012

KULINER

SALOME

Salah satu makanan dari Blitar. Mungkin makanan ini juga ada di kota-kota Anda dengan nama yang berbeda. Salome dari Blitar terbuat dari pati kanji yang di masuukan ke dalam tahu goreng kemudian di kukus sampai matang dan dipotong-potong kecil. Makanan sejenis ini biasanya disebut dengan CILOK (daerah Malang dan sekitarnya) atau CILOT (di Blitar saja, mungkin). Istimewanya dari makanan ini adalah bumbunya mameeennn... bumbunya dari kecap, sambal sate, bawang merah dan kacang yang ditaburkan di atasnya. Rasanya-pun jaminan (kalo lagi anget tambah JOOOSSS).
Ini gambarnya mameenn.. 


Rasa dari Salome ini CILOK/CILOT setara dengan sate..
Tempat berjualannya cuma ada satu dan engga buka cabang. Tepatnya di sebelah timur stadion Supriyadi Kota Blitar. Harganyapun engga mahal kok, seporsi cuman Rp 2.500,- dan bisa beli gak seporsi, maksdunya bisa beli lebih dari Rp 2.500,-
Kalau kamu-kamu maen ke Blitar, jangan lupa mampir ke penjual Salome. :D


SEMOGA BERMANFAAT :)

TERIMA KASIH ATS KUNJUNGANNYA :)

Sabtu, 13 Oktober 2012

PENDIDIKAN KARAKTER

Sedikit berbagi tugas mata kuliah pengantar pendidikan babnya PENDIDIKAN KARAKTER
yang mau download, silahkan klik

PENGANTAR PENDIDIKAN.DOCX via 4 shared :)

SEMOGA BERMANFAATTHANKS FOR VISITING :)

Jumat, 12 Oktober 2012

Contoh Apresiasi Puisi


KRITIK SOSIAL LUGAS ALA SUJIWO TEJO

Lautan Tangis
Berlayarlah di laut keringat kami
Tertawalah di laut keringat kami
Berselancarlah di laut keringat kami
Perpesiarlah di laut keringat kami

Bergerak, bergerak, tetap bergerak, menderap langkagh, merapat barisan
Bergerak, bergerak, tetap bergerak
Berat kita junjung, ringan kita jinjing
Bergerak, bergerak, tetap bergerak
Berlumur keringat dan air mata

Berlayarlah di laut keringat kami
Tertawalah di laut keringat kami
Berselancarlah di laut keringat kami
Perpesiarlah di laut keringat kami

Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Amuk kita timbun, munjung bagai gunung
Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Amuk kita tunda, gunung tak meletus
Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Sejak dulu nahan sejuk bagai gunung

Pesta poralah di gunung kesabaran kami
Dansa dansilah di gunung kesabaran kami
Injak-injakkan kakimu di gunung kesabaran kami
Buang botol-botol minummu di gunung kesabaran kami

Bersabar, bersabar, sampai habis sabar
Sabar jadi riak, riak jadi ombak
Bersabar, bersabar sampai habis sabar
Bergelora gelora begunung gunung ombak
Gulungan gelombang keringat tangisan kami

Hati-hati jangan kau terlena di laut tangis kami
Hati-hati jangan kau ha ha hi hi di laut keringat kami
Awas, awas, awas di gunung kesabaran kami
Mawas mawas dirilah di gunung kesabaran kami.

          Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 50 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".
          Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
          Penyair dan dramawan Sujiwo Tejo menciptakan sebuah puisi untuk menggambarkan kegalauannya pada berbagai persoalan yang sedang terjadi di tanah air. Dalam puisinya itu, Sujiwo Tejo mengkritik kelompok elit yang sering kali mempermainkan kesabaran rakyat. Ada pesan tersirat dalam puisi itu bahwa kesabaran rakyat bagaimanapun banyaknya, tetap punya batas. Dan sekali batas itu dilewati, maka siap-siaplah menerima amuk dan kemarahan.
          Puisi sujiwo tejo dapat dianalisis melalui pendekatan analitis. Pendekatan analitis ialah pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan dan mengimajinasikan ide-idenya, sikap pengarang, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam membangun totalitas bentuk dan totalitas makna.
Pada bait pertama, Berlayarlah di laut keringat kami | Tertawalah di laut keringat kami | Berselancarlah di laut keringat kami | Perpesiarlah di laut keringat kami menunjukkan seolah-olah rakyat yang di ceritrakan dalam puisi tersebut sudah paham benar dengan situasi yang sedang mereka hadapi. Seolah-olah sudah tidak ada lagi hal yang perlu ditutup-tutupi lagi, sudah menjadi rahasia umum. Dalam bait tersebut perasaan rakyat digambarkan dengan lautan keringat hingga dapat digunakan untuk berselancar, berlayar hingga berpesiar. Seakan-akan terlalu banyak keringat yang sudah mengucur.
          Sedang pada bait ke dua, Bergerak, bergerak, tetap bergerak, menderap langkagh, merapat barisan | Bergerak, bergerak, tetap bergerak | Berat kita junjung, ringan kita jinjing | Bergerak, bergerak, tetap bergerak | Berlumur keringat dan air mata menggambarkan keadaan laut yang bergerak-gerak seperti apa yang dilakukan oleh rakyat yang juga bergerak demi kelangsungan hidup mereka, menjunjung penderitaan mereka masing-masing, bermandikan keringat dan air mata. Ketertindasan mereka sudah terlalu banyak bak lautan yang siap tumpah ke dataran.
          Pada bait ketiga, Bersabar, bersabar kita sejak dulu | Amuk kita timbun, munjung bagai gunung | Bersabar, bersabar kita sejak dulu | Amuk kita tunda, gunung tak meletus | Bersabar, bersabar kita sejak dulu | Sejak dulu nahan sejuk bagai gunung menceritakan kesabaran rakyat dengan tingkah laku para punggawa negara. Sudah menahan sabar sejak dahulu, meredam amarah agar tidak menjadi kisruh. Gambaran kesabaran rakyat diibaratkan sebagai gunung yang hendak meletus akan tetapi masih tertunda.
          Pada bait selanjutnya, menggambarkan tingkah punggawa negara di mata rakyatnya. Kesabaran rakyat diabaikan oleh punggawa negara. Ini bukanlah sebuah rahasia pribadi, akan tetapi sudah menjadi rahasia nusantara. Di mata rakyat, pemerintah telah banyak berbuat kesalahan, pemerintah dengan tidak sadar dan tidak terlalu memikirkan dampak yang telah menindas rakyat. Keringat dan air mata yang mengucur dari rakyat tak pernah sekalipun dilirik oleh pemerintah.
          Batas kesabaran manusia dalam puisi ini sudah mencapai pada batasnya. Sewaktu-waktu mereka (rakyat) dapat melampiaskan amarahnya, dapat melampiaskan kekecewaannya.
          Sujiwo Tejo dalam menyampaikan ide gagasan puisinya termasuk lugas, hanya mengibaratkan kesabaran sebagai gunung dan penderitaan yang dijunjung bagai lautan yang siap membabi buta dikala pemerintah lengah. Sikap kepangarangan Sujiwo Tejo pro dengan rakyat, menyampaikan aspirasi rakyat melalui puisi. Apalagi puisi ini dibacakan di depan pelataran gedung KPK dalam pagelaran mendukung program pemberantasan korupsi pada 21 november 2009.
          Sujiwo Tejo, seorang sastrawan yang sering melontarkan sindiran kepada pemerintah atau kaum-kaum borjuis yang duduk di singgasana pemerintahan untuk rakyat. Ia adalah sastrawan yang sangat peduli terhadap problematika yang dihadapi negeri ini.

DAFTAR RUJUKAN
Tanpa nama. 2009. Puisi Politik Sujiwo Tejo: Tertawalah di Laut Keringat Kami, (Online),(http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/11/23/84317/PUISI-POLITIK-Sujiwo-Tejo:-Tertawalah-di-Laut-Keringat-Kami), diakses 21 September 2012.
Tanpa nama. 2012. Sujiwo Tejo, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Sujiwo_Tejo), diakses 21 September 2012.

Minggu, 07 Oktober 2012

MATERI DASAR TEATER

Sedikit berbagi mengenai TEATER.
ini ngumpulin dari berbagai sumber..
ada workshop keaktoran, meditasi, latihan vokal, blocking, dan sebagainya..
ini sih arsip tahun 2010 kemareenn..
SEMOGA BERMANFAAT..

Materi Dasar Teater - Free download via 4Shared.

Teater Jiwa 12 April 2009

Festival Teater

published by: Indah Kurnia

Sabtu, 22 September 2012

(+Tambahan) PENDEKATAN APRESIASI PROSA DAN PUISI

Ini nih ceman-ceman tambahan mengenai PENDEKATAN ANALISIS CERPEN.
Pada umumnya, pendekatan itu kan dilakukan oleh apresiator untuk mengulas sebuah karya sastra. Ternyata selain itu ada juga pendekatan yang dilakukan oleh para pembaca karya sastra, iya siiihh teori ini bisa di aplikasikan dalam pembuatan apresiasi prosa fiksi. sebelumnya udah tau kan apa itu prosa fiksii? kalau belum tau buruan tanya gihh.. :))


Pendekatan apresiasi yang digunakan pembaca pada waktu mengapresiasi sastra lebih banyak ditentukan oleh:
1) Tujuan dan apa yang akan diapresiasi lewat teks sastera yang dibacanya,
2) Kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana, dan
3) Landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi.

Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi, dapat digunakan beberapa pendekatan, yakni:

  1. Pendekatan parafrastis,
  2. Pendekatan emotif,
  3. Pendekatan analitis,
  4. Pendekatan historis,
  5. Pendekatan sosiopsikologis, dan
  6. Pendekatan didaktis.
Pendekatan parafratis adalah strategi pemahaman kandungan karya sastera dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang dismpaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda digunakan pengarangnya.

Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastera adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsure-unsur yang merangsang emosi atau perasaan pembaca. Rangsangan emosi itu dapat berupa keindahan bentuk maupun emosi yang berhubungan dengan isi gagasan, alur, atau penokohan.

Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan dan mengimajinasikan ide-idenya, sikap pengarang, elemen intringsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen instringsik itu sehingga mampu membangunn adanya keselarasan dan kesatuan dalam membangun totalitas bentuk dan totalitas makna.

Pendekatan historis adalah pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biography pengarang, latar belakang, peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya karya sastera yang dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastera sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.

Pendekatan sosiopsikologis adalah pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan social budaya, kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat cipta sastera diwujudkan.

Pendekatan didaktis adalah pendekatan yang berusahaa menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluative maupun sikap pengarang terhadaap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mengandung nilai-nilai moral yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.

Jadi ternyata pendekatan yang digunalan presiator itu buanyak buanget. Karya sastra bisa di apresiasi dari sudut pandang beragam.

TERIMA KASIH atas kunjungan ceman-ceman.
SEMOGA BERMANFAAT :)
DAFTAR RUJUKAN
Tanpa nama. 2010. Pendekatan dalam Apresiasi Prosa dan Puisi, (Online), (http://www.apresiasiprosa.blogspot.com.html), diakses 22 September 2012.

Jumat, 21 September 2012

APRESIASI KARYA SASTRA

Sedikit berbagi tentang dunia sastra, khususnya apresiasi karya sastra. Dibilang teori bisaa, di bilang re post juga bisa.

Dalam file ini dijelaskan mengenai genre atau jenis karya sasta, pendekatan karya sastra, teori sastra, serta aliran sebuah karya sastra.

Maaf apabila dalam dokumen yang saya bagikan ini merupakan re-post dari web/ blog/ pdf yang sudah ada. Saya pernah memakainya dalam penyelesaian tugas mata kuliah saya, kemudian saya susun se praktis mungkin untuk diterbitkan kembali..Maaf tidak bisa ikut mencantumkan sumber refrensi, karena filenya sudah lama bersarang di PC saya..


free download APRESIASI KARYA SASTRA, direct click

TERIMA KASIH sudah mengunjungi blog saya,

SEMOGA BERMANFAAT :)

Senin, 17 September 2012

ANALISIS CERPEN (DRAFT)

Analisis cerpen Rembulan di Dasar Kolam - Danarto



SOSOK MISTIK SEORANG IBU
Danarto, sastrawan dan pelukis Indonesia terkemuka. Selain penulis cerpen, drama dan novel, Danarto juga terkenal sebagai pelukis. Ia lahir di Mojowetan, Sragen (Jawa Tengah), tanggal 27 Juni 1940. Saat ini ia adalah dosen Institut Kesenian Jakarta (sejak 1973). Lulusan ASRI Yogyakarta (1961) Ia pernah aktif dalam Sanggar Bambu Yogyakarta (1959 - 1964), kemudian ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Ia juga pernah menjadi redaktur majalah Zaman ( 1979-1985). Tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS dan tahun 1983 menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam.
Karya-karya Danarto cenderung mengarah ke aliran sufi dan mistik. Terbukti beberapa cerpennya banyak yang diterjemahkan oleh Harry Aveling dalam sebuah buku Abracadabra (Singapura, 1978). banyak pula yang menganalisis cerpen Danarto seperti yang dilakukan oleh Siti Sundari Tjitrobusono, dkk. dengan judul Memahami Cerpen-cerpen Danarto. Buku tersebut disusun agar mengerti apa yang dimaksud dalam cerpen-cerpen Danarto.
Cerpen Rembulan di Dasar Kolam lebih menekankan pada segi mistik yang dimiliki oleh seorang Ibu. Cerpen ini menggambarkan tokoh Saya (Bagas) yang suatu malam mendengar percekcokan Ibu dan Ayahnya tentang memata-matai. Ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya tengah terjadi diantara kedua orang tuanya itu. Hingga pada suatu hari ia memutuskan untuk menguntit Ibunya kemanapun Ibu pergi. Saat itulah ia juga melihat Ayahnya tengah menggandeng perempuan bule melewati Ibunya yang sedang asik jongkok memandangi relief patung batu di koridor perpustakaan. Ayah Bagas mengira Ibu memata-matainya. Pada akhir cerita disampaikan Ibu Bagas memiliki sebuah kemampuan untuk berteleport (pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waku yang singkat), mampu menguasai dimensi ruang dan waktu.
Sosok Ibu yang dapat dikatakan ajaib, mistik, atau sakti. Ibu di sini digambarkan seorang perempuan anggun yang mampu menegakkan keluarga, tidak banyak berkomentar, pengertian, sabar, dapat mengimbangi keras kepalanya Ayah Bagas. Ibu yang memang seorang wonder women yang ternyata pada akhir cerita diketahui Ibu dapat menguasai dimensi ruang dan waktu.
Kemistisan Ibu terlihat dalam cuplikan berikut:
Saya sampai di rumah lebih dahulu daripada Ibu. Saya beranjak dari teras ke dalam ruang ketika mobil Ibu memasuki pekarangan dan langsung ke garasi.
“Astaga!” pekik saya tiba-tiba ketika mendadak bertatapan dengan ibu yang muncul dari kamarnya sambil menenteng buku perpustakaan museumnya itu, padahal saya mendengar pintu mobil baru saja ditutup kembali.
“Bagas!” sergah Ibu, “Kamu kok seperti bertemu macan! Bengong dan merah padam!”
“mendadak saya tidak enak badan, Bu,” sahut saya sambil menghindar.
Saya memang gemetar. Barangkali saya tak kuat menyaksikan kejadian itu. Saya tak habis mengerti bagaimana mungkin Ibu secepat itu turun dari mobil lalu menutup pintunya tiba-tiba saja sudah muncul dari dalam kamarnya, padahal antara garasi dengan kamarnya paling tidak berjarak lima puluh meter. Untuk menuju kamarnya Ibu akan melewati saya yang sedang masuk kamar tamu dari teras.
Dalam kutipan di atas dapai dipahami bahwa Bagas terkejut ketika tiba-tiba ia mendapati Ibunya sudah berada di dalam kamarnya bersamaan dengan suara pintu mobil ditutup. Di sini jelas-jelas terbukti bahwa Ibu Bagas dapat berpindah tempat dengan cepat.
Ada pula bukti lain yang menyatakan kesaktian Ibu yang dapat menguasai dimensi ruang dan waktu:
Terdengar suara Ibu dari dalam rumah, buru-buru saya keluar dari mobil. Ini suatu hal yang tidak mungkin. Ibu saat ini sedang berada di Surabaya. Kecuali oleh suatu hal yang sangat darurat, Ibu selalu punya jadwal yang tepat. Saya bergegas ke rumah. Saya kaget ketika Ibu tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya, seperti peristiwa dulu.
“Lho! Ibu ternyata sudah datang,” seru saya. “Lebih cepat dari yang direncanakan.”
“Tidak,” sahut Ibu. “Sebenarnya Ibu saat ini masih di Surabaya.”
“Saya tidak mengerti maksud Ibu.”
Lalu Ibu masuk kembali ke kamarnya. Saya penasaran menunggu di luar. Setelh satu jam tak muncul, pelan-pelan saya memasuki kamarnya. Mlompong. Kamar itu kosong.
“Ibu!” teriak saya dengan gemetar. Jendela kelihatan tetap terkunci. Ibu telah lenyap tak berbekas. Pasti wajah saya nampak bengong dan merah padam. Lalu saya ke dapur. Pembantu asyik memasak. Saya segan untuk menanyakan tentang kedatangan Ibu tadi. Tukang kebun masih nampak merapikan tanaman. Sedang sopir masih mencuci mobil Ibu. Saya balik ke dalam dan memandangi kamar dengan perasaan bingung.
Kutipan di atas menerangkan Ibu yang seharusnya di Surabaya terdengar suaranya dari dalam rumah dan sosoknya pun dapat dilihat oleh Bagas. Betapa ajaibnya Ibu yang dapat dengan sekejap menduplikasikan dirinya untuk mengunjungi rumah, entah apa yang ingin ia kerjakan di rumah.
Dalam cerpen ini sumber mistis kemampuan Ibu dapat teleport dari satu tempat ke tempat lain melalui sebuah puisi karya Rabiah Al-Adawiyah berikut
Doa Rabiah dari Basrah
Wahai Tuhanku, apapun jua bahagian dari dunia kini yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada musuh-musuh-Mu dan apapun jua bahagian dari dunia akan tiba yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkan itu pada sahabat-sahabat-Mu.
Bagiku Dikau sudah cukup.
Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Dikau di atas segalanya.
Dari kesegalaan di semesta ini pilihanku adalah berangkat menemani-Mu.
Inilah yang akan kuucapkan kelak: “Dikaulah segala-galanya.”
Wahai Tuhanku, tanda mata paling permata dalam hatiku adalah harapanku pada-Mu dan kata paling gula di lidahku adalah pujian pada-Mu dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Kau.
Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahankan hidup duniawi ini tanpa mengingat-Mu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia ini tanpa mengingat-Mu dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia akan tiba tanpa menatap wajah-Mu? Wahai Tuhanku, inilah keluhanku. Daku ini orang asing di kerajaan-Mu dan mati kesepian di tengah-tengah penyembah-Mu!
Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku kelawang di tengah penakhluk perkasa. Jelmakan daku jadi tongkat kecil penunjuk jalan di orang buta.
Wahai Tuhanku, jangan jadikan aku pohon besar yang kelak menjadi tombak dan gada peperangan. Jelmakan daku jadi batang kayu rimbun di tepi jalan tempat musafir berteduh memijit kakinya yang lelah. Wahai Tuhanku, sesudah daku mati, masukanlah daku ke neraka dan jadikanlah jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka sehingga tak ada orang lain dimasukkan ke sana.
Wahai Tuhanku, bilamana daku menyembah-Mu karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembah-Mu karena gairah nikmat di sorga, maka tutupkanlah pintu sorga selamanya bagiku.
Tetapi apabila daku menyembah-Mu demi Dikau semata-mata maka jangan larang daku menatap Keindahan-Mu Yang Abadi.
Setelah puisi terebut dibaca oleh Bagas, ia secara tidak sadar juga memiliki kemampuan berpindah tempat tanpa sepengetahuan ia, terbukti dalam cuplikan berikut
“Masya Allah!” seru saya, “Madu! Seharian saya cuma di rumah saja. Sejengkal pun tak beranjak keluar dari pekarangan.”
Sementara Madu menertawakan saya yang dianggapnya bercanda, saya merasa suatu keanehn sedang menyelinap di hati sanubari saya. Mungkinkah saya sedang menyusul kemampuan Ibu lewat puisi Rabiah ini?
Tetapi bisa juga di pahami bahwa tokoh Bagas hanya bermain imajinasi mengenai kesaktian Ibunya karena ia secara tidak langsung dibuat bertanya-tanya mengenai percekcokan yang terjadi diantara kedua orang tuanya. Seolah-olah Bagas telah dipermainkan oleh perasaannya sendiri dari satu sisi ia merasa bersalah telah menuntit ibu yang surganya terletak dibawah kaki Ibunya.
Inilah kelabihan Danarto dalam menyampaikan aliran sufistik dan dunia imaji yang begitu luas. Pembaca dapat dibuatnya tercengang jika hanya dibaca sekali. Danarto mahir menggabungkan dunia imaji dalam sufi yang memang banyak masyarakat Indonesia masih memercayai keberadaanya. Cerpen ini seakan-akan memang potret kultur bangsa Indonesia pada saat itu yang berhasil dituangkan oleh Danarto dalam berbagai cerpennya.
Mungkin janggal jika membaca judul cerpen Rembulan di Dasar Kolam akan tetapi cerita yang dipaparkan mengenai kemistikan seorang perempuan. Asosiasinya adalah rembulan dapat diibaratkan dengan sosok Ibu yang teraniaya oleh watak suaminya berselingkuh dengan perempuan yang lebih dari dirinya dan watak suaminya inilah yang digambarkan sebagai dasar kolam. Rembulan yang mampu menyinari hingga dasar kolam, rembulan yang dengan cahayanya ia dapat menyinari belahan bumi mana saja. Demikian dengan tokoh Ibu yang mampu menyinari dan menegakkan keluarganya agar tidak timbul perpecahan, Ibu yang dengan keangguannya ternyata dapat menguasai ruang dan waktu.

DAFTAR RUJUKAN
Prasetia, Rian. 2011. Sastra Indonesia: Danarto, (Online), (http://selukbeluksastra.blogspot.com/2011/11/danarto.html), diakses 17 September 2012.



Analisis cerpen Menanti Bunda Kembali - Karkono



POTRET SEBUAH KELUARGA KECIL
Salah satu menuangkan ide inspiraif melalui karya tulis seperti cerpen, novel, dan puisi. Seperti halnya yang dilakukan oleh Karkono Supadi Putra, dosen jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang. Beliau banyak menulis cerpen, baik cerpen yang ringan untuk dibaca maupun cerpen yang banyak menimbulkan persepsi.
Karkono Supadi Putra, Beliau adalah seorang dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dan merupakan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Di samping pekerjaannya sebagai seorang dosen, beliau juga seorang penulis yang karya-karyanya sering dimuat di blog universitas dan beberapa media cetak. Walaupun Beliau dapat digolongkan sebagai penulis baru, tetapi ia sudah menunjukkan dedikasi untuk terjun lebih dalam dan berkecimplung dalam kancah dunia sastra melalui cerpen-cerpen karyanya. Beliau mengarang cerpen juga menggunakan interteks sebagai sumber inspirasinya.
Salah satu cerpen tulisan beliau adalah Menanti Bunda Kembali, menceritakan peristiwa yang dialami oleh keluarga kecil. Seorang Ayah yang menceritakan kegalauan istrinya hendak pergi haji karena harus meninggalkan anaknya yang masih delapan tahun. Sang Ayah berprofesi sebagai dokter, waktunya banyak tercurakan untuk rumah sakit dan kliniknya. Hingga pada suatu hari si anak yang bernama Ryan badannya demam mungkin karena terlalu rindu kepada Ibundanya, sang Ayah-pun tergopoh-gopoh mengkhawatirkan keadaan anaknya yang sudah banyak kehilangan ciran. Kegelisahan sang Ayah yang kemudian membawa malapetaka bagi mereka. Si Ayah terpaksa dirawat di sebuah rumah sakit karena kecelakaan yang dialaminya.
Cerpen ini memiliki kesederhanaan kebahasaan dan penggambaran cerita yang mudah untuk ditebak. Tidak terlalu rumit dalam membuat klimaks sehingga permasalahan yang ingin diciptakan tidak terlalu mengundang emosi pembaca.
Sangat berbeda dengan cerpen-cerpen karya Karkono yang lain misalnya saja pada cerpen Bayangan Hitam, Suara Tiga Hati, dan Lintang Kemukus. Kemungkinan cerpen ini ditulis untuk pembaca pemula (tingkat SD, SMP).
Cerpen ini menggambarkan keluarga yang harmonis, yang setiap pasutri pasti mendambakannya. Misalnya saja pada kutipan berikut
Aku bisa memahami apa yang dipikirkan istriku. Ryan masih berusia delapan tahun, pasti akan merasa sedih ditinggal bundanya pergi berhaji. Pada awlanya istriku ragu untuk pergi ke tanah suci tahun ini seorang diri, tetapi aku yang meyakinkannya. Ini panggilan ilahi, tak ada alasan untuk menunda lagi.
Dalam kutipan tersebut nampak keharmonisan sebuah keluarga yang selalu menjadi idaman tiap pasutri. Apalagi memiliki seorang anak yang terkesan manis dan tidak bandel. Hal inilah yang ingin diinspirasikan oleh pengarang. Pengarang ingin memberikan sebuah kisan yang dapat dijadikan panutan.
Dari segi kebahasaan, pengarang memilih menggunakan kata-kata yang mudah untuk dipahami, kembali ke pernyataan sebelumnya, pengarang ingin menginspirasi pembaca dengan bahasa santun dan dengan kisah yang bisa menjdikan mereka sebagai orang tua yang mengasihi kelarganya.
Cerita pendek ini juga tidak terlalu panjang yang biasanya bisa mencapai sepuluh lembar atau lebih. Inilah keunggulan cerpen Menanti Bunda Kembali, simpel tapi mempunyai banyak kesan bagi pembaca.
Cerpen ini juga dapat dikaitkan dengan pendekatan psikologi yang dialami oleh sang Ayah, Bunda, serta Ryan. Mereka memiliki pergolakan batin, masing-masing tidak ingin menyakiti perasaan satu sama lain. Mereka sangat menjaga keharmonisan keluarga. Di sinilah mereka mengalami guncangan psikologi ringan.
Pengarang juga ingin memaparkan bagaimana kedekatan seorang Ibu dengan anaknya. Ibu yang selalu mengkhawatirkan keadaan anaknya, Ibu yang senantiasa menemani hampir semua aktifitas anaknya. Hingga ketika si Ibu pergi berhaji anaknya merasakan rindu yang teramat, Ryan bergaming memanggil ibunya, mendoakan agar ibunya selamat seperti pada kutipan berikut
Perasaanku semakin tak menentu. Aku menjadi ingat istriku. Ryan pasti terlalu memikirkan bundanya. Aku tidak bisa tenang untuk menangani Ryan sendirian, makanya aku putuskan untuk membawaya ke rumah sakit.
Saat kubopong tubuhnya ke dalam mobil. Lirih ku dengar dia menyebut Bunda berulang kali
Sehebat apapun seorang dokter, ia pasti juga akan panik dengan kondisi anaknya saat itu. Seorang dokterpun masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak. Dan seorang dokterpun masih memaklumi seorang anak yang sakit karena teramat merindukan bunda tercintanya.
Secara garis besar, cerpen ini dapat dikategorikan sebagai cerpen inspiratif. Cerita yang disampaikan dapat pempersuasi pembaca untuk bertindak seperti yang diceritakan dan mengambil hikmahnya secara arif dan bijaksana. Jangan menilai sebuah karya sastra dari penggunaan bahasanya maupun segi penceritaannya, tetapi nilailah sebuah karya sastra tersebut dari seberapa besar pengaruh sebuah karya sastra tersebut bagi pembacanya.



Semoga bermanfaat.Thanks for visiting :)