greeting

SELAMAT DATANG | WELCOME

Selasa, 22 Maret 2016

Aku Wanita Gila

Jika kau mengatakan aku tak punya perasaan, tak apa bagiku. Aku bukanlah orang yang baik dengan seribu kebaikan yang melekat padaku. Bukan pula malaikat berparas cantik. Hanya seorang wanita yang tak punya perasaan. Egois. Memikirkan diriku sendiri. Aku bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah mereka. Tidak dengan masalahku. Aku bermasalah dengan perasaanku dan logikaku. Sejak kecil aku harus berpikir dengan bijak menggunakan logika dan mulai membuang perasaan kalutku. Hingga aku terbiasa tidak memiliki perasaan yang begitu berarti. Pernah aku mencintai seseorang, hingga akhirnya aku tahu bahwa status sosial membuatnya kandas. Aku ingin menjadi wanita biasa, sangat biasa. Tetapi tidak dengan dua orang dibelakangku. Mereka jadikan aku seolah2 wanita luar biasa. Aku tak punya sentuhan emosional yang begitu berarti. Menjalani hubungan emosional hanya karena aku ingin mengubah orang tersebut menjadi orang yang lebih baik, dengan cinta dan kasih yang tulus. Tetapi ketika kehilangan orang tersebut, aku tak akan merasa sakit, merasa begitu sakit. Aku hanya meneteskan air mata agar ia tahu bahwa aku berada di pihaknya, tapi entah mengapa setelah itu aku tak merasakan yang namanya sakit hati begitu mendalam. Hal itu berulang kembali. Bertemu dengan orang yang menaruh seluruh hatinya padaku. Kujalani dengan penuh cinta dan kasih sayang untuknya. Melindunginya dari keganasan mereka tanpa menutup nutupi kondisi lingkunganku. Hanya aku tak membicarakan bagaimana kondisi psikisku yang memang sudah mengkhawatirkan. Tertawa ikut tertawa, menangis ikut menangis, dan sedih tak akan ada kata sedih. Apa iya aku sudah gila? Melakukan semua demi orang lain menjadi lebih baik. Selanjutnya jika aku yang akan terluka, aku tak memikirkannya. Apa yang membuatku begitu tak merasakan kesedihan? Aku tahu, tak ada gunanya aku bersedih, cepat atau lambat, pasti dan akan pasti, aku tak punya impian masa depan. Sudah kupendam dalam impian bahagiaku dengan jalanku sendiri saat kupendam semua rasa kalutku. Ya, aku sudah tidak punya impian masa depan. Masa depanku ditentukan oleh mereka, dengan cara mereka menghutangi budi kepadaku. Hidupku bagaikan perjudian, entah nantinya menang atau kalah. Yang ku tahu, aku lupa bagaimana merasakan kebebasan sejati. Entah jika Tuhan mengubah kartuku dan mendapat joker. Tapi itu sama saja dosa. Sudah banyak dosa yang kuperbuat, mau kutumpuk setinggi apa dosaku ini? Dasar aku ini wanita tidak punya perasaan dan pendosa. Jangan mencintaiku jika kau takut kesakitan akan cinta dan kerasnya dunia. Jangan mencintaiku jika kau bukaj yg mereka inginkan. Dan yang mereka inginkan bukanlah cinta yang kuinginkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar